Buta Warna

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indra pertama yang penting yaitu indra penglihata; mata. Mata adalah indera yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga mampu dengan mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya dengan cepat. Orang yang tidak memiliki mata disebut buta sehingga butuh bantuan.

Mata merupakan penglihatan untuk menerima rangsang cahaya. Bagian mata yang peka terhadap cahaya adalah bagian bintik kuning yang terdapat pada lapisan retina. Kita dapat melihat benda setelah rangsang cahaya diterima retina tepat pada bintik kuning, kemudian rangsangan diteruskan oleh urat saraf otak ke pusat penglihatan di otak.

Namun, terkadang ada kelainan yang terjadi pada seseorang akibat kelainan genetik ataukah sebuah kecelakaan. Ya, buta warna. Alangkah baiknya jika orang tua dapat mendeteksi kelainan buta warna pada anak sejak dini. Buta warna dibagi dalam dua kategori, yaitu buta warna total yaitu penyandangnya tidak bisa mengenali warna lain, kecuali hitam dan putih dan buta warna parsial.

Berdasarkan tinjauan di atas, maka dilaksanakanlah kegiatan praktikum ini. Di sini mahasiswa sebagai probandus akan diuji kemampuan sel kerucut pada retina matanya untuk membedakan warna. Salah satu acuannya yaitu menggunakan buku Ishihara.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat:

  1. Mengetahui cara menentukan seseorang mengalami buta warna.
  2. Mengetahui penyebab buta warna.

C. Manfaat Praktikum

Melalui praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui cara menentukan seseorang mengalami buta warna dan mengetahui penyebabnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sel kerucut dan sel batang pada retina mempunyai fungsi yang berbeda. Sel batang tidak dapat membedakan warna dan lebih intesif terhadap cahaya, Sel kerucut memerlukan pencahayaan lebih banyak untuk merangsang sel tersebut. Penglihatan warna ditimbulkan adanya tiga subkelas sel kerucut, masing-masing memiliki jenis opsinnya sendiri dan berkaitan dengan retinal untuk membentuk pigmen visual fotopsin. Fotoreseptor sebagai kerucut merah, hijau dan biru. Spektra absorbsi untuk pigmen ini saling tumpang tindih dan persepsi otak terhadap corak intermediet bergantung pada perbedaan stimulasi dua atau lebih kerucut. Contoh, ketika sel kerucut merah dan hijau dirangsang kita mungkin bias melihat warna kuning atau oranye, bergantung pada sel kerucut mana yang paling kuat dirangsang. Buta warna lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena umumnya diwariskan sebagai sifat yang terpaut seks (Campbell, 2002).

Penderita buta warna tidak dapat membedakan warna tertentu. misalnya merah, hijau. dan biru. Buta warna merupakan penyakit keturunan yang tidak dapat disembuhkan. Setiap kerucut bereaksi dengan warna yang berbeda yaitu cahaya merah, biru atau hijau. Kerusakan sebuah kerucut menyebabkan kebutaan warna ringan. Jika kerucut benar-benar rusak, buta warna menjadi lebih berat. Buta warna lebih banyak diderita laki-laki dari pada perempuan. Penyebab tersering buta warna adalah faktor keturunan. Penyebab lainnya adalah kelainan yang didapat selama kehidupannya, misalnya kecelakaan/trauma pada mata (Frita, 2010).

Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelinan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosm X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki dan wanita. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurukan faktor buta warna kepada anaknya kelak (Bejo, 2008).

Menurut Dickyspeed (2009), berikut klasifikasi buta warna:

  1. Trikromasi; mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:
    1. Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah.
    2. Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita.
    3. Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.
  2. Dikromasi; keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:
    1. Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah.
    2. Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
    3. Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.
  3. Monokromasi; buta warna oleh orang umum, ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.

Bagaimana cara mengetahui sesorang buta warna atau tidak? Umumnya cara yang digunakan yaitu mengidentifikasi angka atau huruf dengan latar belakang warna tertentu, misalnya Ishihara test. Pada setiap gambar terdapat angka yang dibentuk dari titik-titik berwarna. Gambar digantung di bawah pencahayaan yang baik dan pasien diminta mengidentifikasi angka yang terdapat pada gambar tersebut. Ketika pada tahap ini ditemukan adanya kelainan, test yang lebih detail lagi akan diberikan. Sampai saat ini belum ada tindakan atau pengobatan yang dapat mengatasi gangguan persepsi (Karina, 2007).

Menurut Wartamedika (2008), sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya. Cara tersebut antara lain adalah :

  1. Menggunakan kacamata lensa warna. Tujuannya, agar penderita dapat membedakan warna dengan lebih mudah. Cara ini terbuktif efektif pada beberapa penderita.
  2. Menggunakan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau. Biasanya penderita buta warna dapat membedakan warna lebih jelas jika cahaya tidak terlalu terang atau menyilaukan.
  3. Jika tidak dapat melihat warna sama sekali (buta warna total), penderita dianjurkan menggunakan kacamata lensa gelap dan mempunyai pelindung cahaya pada sisinya. Suasana lebih gelap diperlukan karena sel rod, yaitu sel yang hanya bisa membedakan warna hitam, putih, dan abu-abu, bekerja dengan lebih baik pada kondisi cahaya yang suram.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal          : Senin/ 03 Januari 2011

Waktu                     : pukul 09.00 s.d 10.30 WITA

Tempat                   : Laboratorium Biologi Lantai II Timur FMIPA UNM

B. Alat dan Bahan

  1. Alat yang digunakan:
    1. Buku petunjuk Ishihara
    2. Pulpen
    3. Bahan yang digunakan:
      1. Probandus (mahasiswa)
      2. Kertas tabel pengamatan

C. Prosedur Kerja

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  2. Meletakkan buku Ishihara test pada tempat dengan pencahayaan cukup, tepat 900 dari mata probandus.
  3. Meminta probandus menyebutkan angka yang tertera pada buku  Ishihara test.
  4. Mencatat angka yang terlihat oleh probandus pada tabel pengamatan.
  5. Membandingkan hasil penglihatan probandus dengan pembanding yang ada pada buku Ishihara test.
  6. Mengidentifikasi kelainan buta warna yang terjadi probandus jika tidak sesuai dengan angka yang terlihat oleh pembanding.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No. gambar Terlihat oleh naracoba Terlihat oleh pembanding
Selis Meriem Nur Rahma Gani Lili Suryani Embas
1 12 12 12 12
2 8 8 8 8
3 5 5 5 5
4 29 29 29 29
5 74 74 74 74
6 7 7 7 7
7 45 45 45 45
8 2 2 2 2
9
10 16 16 16 16
11
12 35 35 35 35
13 96 96 96 96
14

B. Pembahasan

Pengamatan praktikum ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan sel kerucut pada retina kita mampu membedakan warna. Indikator yang kami gunakan yaitu kecocokan angka yang disebut probandus pada buku Ishihara test dengan angka yang terlihat oleh pembanding. Dari hasil data yang kami peroleh menunjukkan bahwa anggota kelompok V tidak ada yang mengalami kelainan buta warna. Hal ini terbukti dengan pembacaan angka pada buku Ishihara test sesuai yang terlihat oleh pembanding. Berarti pada retina terdapat sel-sel kerucut protan yaitu sel kerucut warna merah yang dapat melihat kecerahan warna merah, sel-sel kerucut deuteron yaitu sel kerucut yang peka terhadap warna hijau dan sel-sel kerucut tritan yaitu sel kerucut yang peka terhadap warna biru.

Kemampuan sel-sel kerucut pada retina masing-masing probandus tidak memungkinkan bahwa silsilah keluarga probandus tidak ada yang mengalami buta warna. Mengingat bahwa salah satu penyebab buta warna yaitu gen yang biwariskan dari keturunan dimana gen yang mengatur buta warna ini terpaut oleh seks pada kromosom X.  Bisa saja probandus perempuan normal atau karier buta warna. Namun, pada praktikum ini kami belum dapat mengetahui genotipe setiap probandus karena mengingat biaya tes DNA yang memungut dana besar. Dari hasil data yang kami peroleh sesuai dengan teori berikut.

Sel kerucut dan sel batang pada retina mempunyai fungsi yang berbeda. Sel batang tidak dapat membedakan warna dan lebih intesif terhadap cahaya, Sel kerucut memerlukan pencahayaan lebih banyak untuk merangsang sel tersebut. Penglihatan warna ditimbulkan adanya tiga subkelas sel kerucut, masing-masing memiliki jenis opsinnya sendiri dan berkaitan dengan retinal untuk membentuk pigmen visual fotopsin. Fotoreseptor sebagai kerucut merah, hijau dan biru. Spektra absorbsi untuk pigmen ini saling tumpang tindih dan persepsi otak terhadap corak intermediet bergantung pada perbedaan stimulasi dua atau lebih kerucut. Contoh, ketika sel kerucut merah dan hijau dirangsang kita mungkin bias melihat warna kuning atau oranye, bergantung pada sel kerucut mana yang paling kuat dirangsang. Buta warna lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena umumnya diwariskan sebagai sifat yang terpaut seks (Campbell, 2002).

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data yang kami peroleh maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Pengujian tes buta warna dapat dilakukan dengan menggunakan buku Ishihara test, dimana pada buku ini tertera angka yang terdapat pada titik-titik warna.
  2. Buta warna disebabkan oleh ketidakmampuan sel-sel kerucut pada retina membedakan warna merah, hijau dan biru.

B. Saran

Adapun saran yang kami ajukan demi kelancaran praktikum selanjutnya, yaitu sebaiknya:

  1. Praktikan memiliki pengetahuan awal sebelum memasuki kegiatan praktikum
  2. Asisten tetap semangat membimbing praktikan
  3. Laboran menyediakan alat yang dapat mendeteksi genotipe probandus yang normal dan yang mengalami buta warna.

DAFTAR PUSTAKA

Bejo. 2008. Tes Buta Warna. http://rxbejo.blogspot.com/2008/11/tes-buta-warna.html. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece & Lawrence G. Mitchell. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dian. 2010. Opsin yang Terkait Fungsi Vitamin. http://webcache.googleusercontent.com/. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Dickyspeed. 2009. Buta Warna. http://dickspeed.blogspot.com/2009/05/buta-warna.html. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Frita. 2010. Mata 1. http://fri3ta.files.wordpress.com/2010/06/mata1.pdf. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Karina, Nina. 2007. Mengenal Lebih Dekat Buta Warna. http://mengenallebihdekatbutawarna.wordpress.com/2010/04/. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Wartamedika. 2008. Dapatkah Buta Warna Diobati. http://www.wartamedika.com/2008/08/dapatkah-buta-warna-diobati.html. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s