Buta Warna

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indra pertama yang penting yaitu indra penglihata; mata. Mata adalah indera yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga mampu dengan mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya dengan cepat. Orang yang tidak memiliki mata disebut buta sehingga butuh bantuan.

Mata merupakan penglihatan untuk menerima rangsang cahaya. Bagian mata yang peka terhadap cahaya adalah bagian bintik kuning yang terdapat pada lapisan retina. Kita dapat melihat benda setelah rangsang cahaya diterima retina tepat pada bintik kuning, kemudian rangsangan diteruskan oleh urat saraf otak ke pusat penglihatan di otak.

Namun, terkadang ada kelainan yang terjadi pada seseorang akibat kelainan genetik ataukah sebuah kecelakaan. Ya, buta warna. Alangkah baiknya jika orang tua dapat mendeteksi kelainan buta warna pada anak sejak dini. Buta warna dibagi dalam dua kategori, yaitu buta warna total yaitu penyandangnya tidak bisa mengenali warna lain, kecuali hitam dan putih dan buta warna parsial.

Berdasarkan tinjauan di atas, maka dilaksanakanlah kegiatan praktikum ini. Di sini mahasiswa sebagai probandus akan diuji kemampuan sel kerucut pada retina matanya untuk membedakan warna. Salah satu acuannya yaitu menggunakan buku Ishihara.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat:

  1. Mengetahui cara menentukan seseorang mengalami buta warna.
  2. Mengetahui penyebab buta warna.

C. Manfaat Praktikum

Melalui praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui cara menentukan seseorang mengalami buta warna dan mengetahui penyebabnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sel kerucut dan sel batang pada retina mempunyai fungsi yang berbeda. Sel batang tidak dapat membedakan warna dan lebih intesif terhadap cahaya, Sel kerucut memerlukan pencahayaan lebih banyak untuk merangsang sel tersebut. Penglihatan warna ditimbulkan adanya tiga subkelas sel kerucut, masing-masing memiliki jenis opsinnya sendiri dan berkaitan dengan retinal untuk membentuk pigmen visual fotopsin. Fotoreseptor sebagai kerucut merah, hijau dan biru. Spektra absorbsi untuk pigmen ini saling tumpang tindih dan persepsi otak terhadap corak intermediet bergantung pada perbedaan stimulasi dua atau lebih kerucut. Contoh, ketika sel kerucut merah dan hijau dirangsang kita mungkin bias melihat warna kuning atau oranye, bergantung pada sel kerucut mana yang paling kuat dirangsang. Buta warna lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena umumnya diwariskan sebagai sifat yang terpaut seks (Campbell, 2002).

Penderita buta warna tidak dapat membedakan warna tertentu. misalnya merah, hijau. dan biru. Buta warna merupakan penyakit keturunan yang tidak dapat disembuhkan. Setiap kerucut bereaksi dengan warna yang berbeda yaitu cahaya merah, biru atau hijau. Kerusakan sebuah kerucut menyebabkan kebutaan warna ringan. Jika kerucut benar-benar rusak, buta warna menjadi lebih berat. Buta warna lebih banyak diderita laki-laki dari pada perempuan. Penyebab tersering buta warna adalah faktor keturunan. Penyebab lainnya adalah kelainan yang didapat selama kehidupannya, misalnya kecelakaan/trauma pada mata (Frita, 2010).

Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelinan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosm X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki dan wanita. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurukan faktor buta warna kepada anaknya kelak (Bejo, 2008).

Menurut Dickyspeed (2009), berikut klasifikasi buta warna:

  1. Trikromasi; mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:
    1. Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah.
    2. Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita.
    3. Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.
  2. Dikromasi; keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:
    1. Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah.
    2. Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
    3. Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.
  3. Monokromasi; buta warna oleh orang umum, ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.

Bagaimana cara mengetahui sesorang buta warna atau tidak? Umumnya cara yang digunakan yaitu mengidentifikasi angka atau huruf dengan latar belakang warna tertentu, misalnya Ishihara test. Pada setiap gambar terdapat angka yang dibentuk dari titik-titik berwarna. Gambar digantung di bawah pencahayaan yang baik dan pasien diminta mengidentifikasi angka yang terdapat pada gambar tersebut. Ketika pada tahap ini ditemukan adanya kelainan, test yang lebih detail lagi akan diberikan. Sampai saat ini belum ada tindakan atau pengobatan yang dapat mengatasi gangguan persepsi (Karina, 2007).

Menurut Wartamedika (2008), sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya. Cara tersebut antara lain adalah :

  1. Menggunakan kacamata lensa warna. Tujuannya, agar penderita dapat membedakan warna dengan lebih mudah. Cara ini terbuktif efektif pada beberapa penderita.
  2. Menggunakan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau. Biasanya penderita buta warna dapat membedakan warna lebih jelas jika cahaya tidak terlalu terang atau menyilaukan.
  3. Jika tidak dapat melihat warna sama sekali (buta warna total), penderita dianjurkan menggunakan kacamata lensa gelap dan mempunyai pelindung cahaya pada sisinya. Suasana lebih gelap diperlukan karena sel rod, yaitu sel yang hanya bisa membedakan warna hitam, putih, dan abu-abu, bekerja dengan lebih baik pada kondisi cahaya yang suram.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal          : Senin/ 03 Januari 2011

Waktu                     : pukul 09.00 s.d 10.30 WITA

Tempat                   : Laboratorium Biologi Lantai II Timur FMIPA UNM

B. Alat dan Bahan

  1. Alat yang digunakan:
    1. Buku petunjuk Ishihara
    2. Pulpen
    3. Bahan yang digunakan:
      1. Probandus (mahasiswa)
      2. Kertas tabel pengamatan

C. Prosedur Kerja

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  2. Meletakkan buku Ishihara test pada tempat dengan pencahayaan cukup, tepat 900 dari mata probandus.
  3. Meminta probandus menyebutkan angka yang tertera pada buku  Ishihara test.
  4. Mencatat angka yang terlihat oleh probandus pada tabel pengamatan.
  5. Membandingkan hasil penglihatan probandus dengan pembanding yang ada pada buku Ishihara test.
  6. Mengidentifikasi kelainan buta warna yang terjadi probandus jika tidak sesuai dengan angka yang terlihat oleh pembanding.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No. gambar Terlihat oleh naracoba Terlihat oleh pembanding
Selis Meriem Nur Rahma Gani Lili Suryani Embas
1 12 12 12 12
2 8 8 8 8
3 5 5 5 5
4 29 29 29 29
5 74 74 74 74
6 7 7 7 7
7 45 45 45 45
8 2 2 2 2
9 - - - -
10 16 16 16 16
11 - - - -
12 35 35 35 35
13 96 96 96 96
14 - - - -

B. Pembahasan

Pengamatan praktikum ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan sel kerucut pada retina kita mampu membedakan warna. Indikator yang kami gunakan yaitu kecocokan angka yang disebut probandus pada buku Ishihara test dengan angka yang terlihat oleh pembanding. Dari hasil data yang kami peroleh menunjukkan bahwa anggota kelompok V tidak ada yang mengalami kelainan buta warna. Hal ini terbukti dengan pembacaan angka pada buku Ishihara test sesuai yang terlihat oleh pembanding. Berarti pada retina terdapat sel-sel kerucut protan yaitu sel kerucut warna merah yang dapat melihat kecerahan warna merah, sel-sel kerucut deuteron yaitu sel kerucut yang peka terhadap warna hijau dan sel-sel kerucut tritan yaitu sel kerucut yang peka terhadap warna biru.

Kemampuan sel-sel kerucut pada retina masing-masing probandus tidak memungkinkan bahwa silsilah keluarga probandus tidak ada yang mengalami buta warna. Mengingat bahwa salah satu penyebab buta warna yaitu gen yang biwariskan dari keturunan dimana gen yang mengatur buta warna ini terpaut oleh seks pada kromosom X.  Bisa saja probandus perempuan normal atau karier buta warna. Namun, pada praktikum ini kami belum dapat mengetahui genotipe setiap probandus karena mengingat biaya tes DNA yang memungut dana besar. Dari hasil data yang kami peroleh sesuai dengan teori berikut.

Sel kerucut dan sel batang pada retina mempunyai fungsi yang berbeda. Sel batang tidak dapat membedakan warna dan lebih intesif terhadap cahaya, Sel kerucut memerlukan pencahayaan lebih banyak untuk merangsang sel tersebut. Penglihatan warna ditimbulkan adanya tiga subkelas sel kerucut, masing-masing memiliki jenis opsinnya sendiri dan berkaitan dengan retinal untuk membentuk pigmen visual fotopsin. Fotoreseptor sebagai kerucut merah, hijau dan biru. Spektra absorbsi untuk pigmen ini saling tumpang tindih dan persepsi otak terhadap corak intermediet bergantung pada perbedaan stimulasi dua atau lebih kerucut. Contoh, ketika sel kerucut merah dan hijau dirangsang kita mungkin bias melihat warna kuning atau oranye, bergantung pada sel kerucut mana yang paling kuat dirangsang. Buta warna lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena umumnya diwariskan sebagai sifat yang terpaut seks (Campbell, 2002).

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data yang kami peroleh maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Pengujian tes buta warna dapat dilakukan dengan menggunakan buku Ishihara test, dimana pada buku ini tertera angka yang terdapat pada titik-titik warna.
  2. Buta warna disebabkan oleh ketidakmampuan sel-sel kerucut pada retina membedakan warna merah, hijau dan biru.

B. Saran

Adapun saran yang kami ajukan demi kelancaran praktikum selanjutnya, yaitu sebaiknya:

  1. Praktikan memiliki pengetahuan awal sebelum memasuki kegiatan praktikum
  2. Asisten tetap semangat membimbing praktikan
  3. Laboran menyediakan alat yang dapat mendeteksi genotipe probandus yang normal dan yang mengalami buta warna.

DAFTAR PUSTAKA

Bejo. 2008. Tes Buta Warna. http://rxbejo.blogspot.com/2008/11/tes-buta-warna.html. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece & Lawrence G. Mitchell. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dian. 2010. Opsin yang Terkait Fungsi Vitamin. http://webcache.googleusercontent.com/. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Dickyspeed. 2009. Buta Warna. http://dickspeed.blogspot.com/2009/05/buta-warna.html. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Frita. 2010. Mata 1. http://fri3ta.files.wordpress.com/2010/06/mata1.pdf. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Karina, Nina. 2007. Mengenal Lebih Dekat Buta Warna. http://mengenallebihdekatbutawarna.wordpress.com/2010/04/. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

Wartamedika. 2008. Dapatkah Buta Warna Diobati. http://www.wartamedika.com/2008/08/dapatkah-buta-warna-diobati.html. Diakses di Makassar pada tanggal 06 Januari 2011.

 

 

 

 

 

 

 

Alel Ganda

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem transportasi dalam tubuh manusia terdiri dari komponen jantung, pembuluh darah dan darah. Darah terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Semua manusia pasti mempunyai darah. Tapi ada yang bergolongan darah sama dan ada yang bergolongan darah beda. Golongan darah adalah sifat herediter yang dapat diturunkan dari parental dan maternal kepada keturunannya.

Kegiatan sosial yang kadang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari adalah kegiatan donor darah. Mungkin di antara Anda ada yang pernah mendonorkan darahnya. Sebelum Anda mentransfusikan darah Anda, pastinya dilakukan uji golongan darah dahulu. Hal ini penting dalam memisahkan golongan darah apa yang nantinya dibutuhkan oleh resipien yang membutuhkan.

Darah yang ada pada tubuh Anda memiliki komponen khusus yang mengekspresikan golongan darah Anda. Komponen itu adalah ada tidaknya aglutinogen dalam serum darah dan ada tidaknya agglutinin pada permukaan sel darah merah. Hal ini sangat penting diketahui, agar darah yang Anda transfusi cocok dengan resipien dan tidak ada penolakan sistem tubuh dari resipien.

Pengetahuan golongan darah ini sangat penting. Misalnya, ada anak yang memiliki golongan darah yang berbeda dengan kedua orang tuanya. Sebagai mahasiswa Biologi kita tidak boleh langsung menjudge anak tersebut bukan anak kandung dari parentalnya karena bisa saja genotipe kedua parentalnya ada yang heterozigot. Contoh, golongan darah A diekspresikan oleh dua genotipe yaitu homozigot dominan atau heterozigot, berarti dipengaruhi oleh alel ganda.

Peristiwa dan kejadian di atas pastinya menggugah rasa ingin tahu kita sebagai mahasiswa Biologi dalam mempelajari golongan darah yang ternyata dipengaruhi oleh alel ganda. Oleh karena pemikiran di atas, maka dilaksanakanlah kegiatan praktikum ini. Sistem penggolongan darah yang kami gunakan adalah sistem penggolongan darah pada umumnya yaitu sistem ABO.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk:

  1. Mengenal beberapa sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda,
  2. Mencoba menetapkan genotype golongan darah probandus.

C. Manfaat Praktikum

Adapun manfaat yang diperoleh dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat:

  1. Mencari sifat keturunan selain golongan darah sistem ABO yang dipengaruhi oleh alel ganda,
  2. Menjadikan hasil data laporan ini sebagai pegangan dalam menghadapi masalah-masalah soal alel ganda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sebagian besar gen yang ada dalam populasi sebenarnya hadir dalam lebih dari dua bentuk sel. Golongan darah ABO pada manusia merupakan satu contoh dari alel berganda dari sebuah gen tunggal. Ada empat kemungkinan fenotipe untuk karakter ini. Golongan darah seseorang mungkin A, B, AB atau O. Huruf-huruf ini menunjukkan dua karbohidrat, substansi A dan substansi B, yang mungkin ditemukan pada permukaan sel darah merah. Kesesuaian golongan darah sangatlah penting dalam transfusi darah. Jika darah donor mempunyai factor (A atau B) yang dianggap asing oleh resipien, protein spesifik yang disebut antibody yang diproduksi oleh resipien akan mengikatkan diri pada molekul asing tersebut sehingga menyebabkan sel-sel darah yang disumbangkan menggumpal (Campbell, 2002).

Sebuah gen dapat memiliki lebih dari sebuah alel. Alel-alelnya disebut alel ganda (multiple allele). Sedangkan peristiwa dimana sebuah gen dapat mempunyai lebih dari satu alel disebut: multiple allelomorphi (Henuhili, 2002).

Suatu sifat dikendalikan oleh sepasang alel pada satu lokus gen. Namun pada kenyataannya banyak sifat yang dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau bahkan dalam kromosom yang berlainan. Fenomena ini dinamakan poligen atau gen majemuk. Contoh fenotip pada manusia yang dikendalikan secara poligenik adalah pigmentasi kulit, tinggi badan, dan jumlah gigi dermal (Koesmadji, 2001).

Hewan, tumbuhan dan manusia dikenal mempunyai beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda. Pada kenyatannya pada suatu lokus (tempat) di kromosom tidak hanya ditempati oleh sebuah gen tunggal saja, tetapi dapat juga ditempati oleh suatu seri dari alel-alel. Alel-alel demikian itu dinamakan alel ganda. Dominansi dan jumlah alel dalam tiap lokusnya berbeda satu sama lain. Beberapa sifat/ fenotip yang dipengaruhi oleh alel ganda diantaranya adalah golongan darah manusia, rambut pada segmen digitalis tengah dari jari-jari tangan, warna mata pada Drosophila, warna rambut pada kelinci dan sebagainya ().

Alel yang anggotanya lebih dari dua disebut alel ganda. Pada Drosophila ditemukan seri alel ganda yang mempengaruhi warna mata yang terdiri tidak kurang dari 14 anggota. Penggunaan symbol bagi anggota-anggota alel tersebut tetap mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku bagi pasangan alel, yaitu untuk sifat yang paling dominan digunakan huruf besar sedangkan bagi anggota-anggota alel lain digunakan huruf kecil dengan suatu superscript (a1 atau as) atau subript (a1 atau as). Urutan dalam penulisan anggota alel disesuaikan dengan urutan dominansi satu sifat terhadap yang lain (Nio, 1990).

Mengikuti penemuan Laidsteiner tentang penggumpalan sel-sel darah merah dan pengertian tentang reaksi antigen-antibodi maka penyelidikan selanjutnya memberi penegasan mengenai adanya dua antibody alamiah di dalam serum darah dua antigen pada permukaan dari eritrosit. Seseorang dapat membentuk salah satu atau kedua antibody itu atau sama sekali tidak membentuknya. Demikian pula dengan antigennya. Dua antigen itu disebut antigen-A dan antigen-B, sedangkan dua antibodi itu disebut anti-A dan anti-B. melalui tes darah maka setiap orang dapat mengetahui golongan darahnya. Berdasarkan sifat kimianya, antigen-A dan –B merupakan mukopolisakarida, terdiri dari protein dan gula. Dalam dua antigen itu bagian proteinnya sama, tetapi bagian gulanya merupakan dasar kekhasan antigen-antibodi. Golongan darah seseorang ditentukan oleh macamnya antigen yang dibentuknya (Suryo, 1990).

Antigen atau aglutinogen yang dibawa oleh eritrosit orang tertentu dapat mengadakan reaksi dengan zat anti atau antibodi atau agglutinin yang dibawa oleh serum darah. Dikenal dua macam antigen yaitu antigen-A dan antigen-B, sedangkan zat antinya dibedakan atas anti-A dan anti-B. Orang ada yang memiliki antigen-A, lain lagi memiliki antigen-B. ada juga yang memiliki kedua antigen, yaitu antigen-A dan antigen-B, sedangkan ada pula yang tidak memiliki antigen-A maupun antigen-B (Suryo, 2000).

Golongan darah manusia ABO ditentukan oleh alel-alel i, IA dan IB. Alel i resesip terhadap IA dan IB. Alel IA dan IB bersifat kodominan, sehingga IB tidak dominan terhadap IA dan sebaliknya IA tidak dominan terhadap IB. interaksi antara alel i, IA dan IB menghasilkan 4 fenotip golongandarah, yaitu O, A, B dan AB. Gen I menghasilkan suatu molekul protein yang disebut isoaglutinin yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Orang dengan alel IA dapat membentuk aglutinogen atau antigen yang disebut antigen-A dalam eritrosit yang kemudian dapat bereaksi dengan antibodi atau agglutinin atau zat anti-B yang terdapat di dalam serum atau plasma darah (Henuhili, 2002).

Antigen A dan B diwariskan sebagai alelomorf Mendel, A dan B adalah dominan. Misalnya, seseorang yang bergolongan darah B mendapatkan turunan satu antigen B dari setiap ayah dan ibu atau satu antigen dari salah satu orang tua dan satu O dari orang tua lain; jadi, seorang individu yang berfenotip B dapat mempunyai genotip BB (homozigot) atau BO (heterozigot). Kalau golongan darah orang tua diketahui, kemungkinan genotip pada anak-anak mereka dapat ditetapkan. Kalau kedua orang tuanya bergolongan B, mereka dapat mempunyai anak bergenotip BB (antigen B dari kedua orang tua), BO (antigen B dari salah satu orang tua, O dari orang tua lain yang heterozigot), atau OO (antigen O dari kedua orang tuanya, yang keduanya heterozigot). Kalau golongan darah seorang ibu dan anaknya diketahui, penggolongan darah dapat membuktikan bahwa seseorang adalah bukan ayahnya, meskipun tidak dapat membuktikan bahwa ia adalah ayahnya. Manfaat prediktif semakin besar kalau penggolongan darah kelompok orang yang bersangkutan ini meliputi pula identifikasi antigen lain selain aglutinogen ABO. Dengan menggunakan sidik DNA,angka penyingkiran paternal meningkat hampir mendekati 100% (Elvita, 2008).

Bahan utama yang digunakan dalam melakukan identifikasi adalah berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Jika pada anti serum A terjadi penggumpalan (aglutinasi) sedangkan anti serum B tidak, maka golongan darah probandus adalah A. Bila terjadi sebaliknya, maka golongan darah probandus adalah B. Bila kedua-duanya mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah AB. Bila kedua-duanya tidak mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah O (Asriani, 2010).

Penjelasan teori mengenai golongan darah sangat penting mengenal golongan darah sebelum melakukan transfuse darah. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi yang dapat mengenali anti gen sel darah merahnya dan antigen asing yang masuk dari luar. Antibodi akan menggumpalkan antigen yang berbeda dari antigen yang dibentuk oleh sel darah merahnya. Jadi antibodi golongan darah A (yang memproduksi antigen A) akan menggumpalkan antigen B dan antibodi golongan darah B (yang memproduksi antigen B) akan menggumpalkan anti gen A. Jika antibody tidak dapat menggumpalkan antigen A dan B karena memproduksi dengan baik antigen tersebut maka golongan darahnya adalah AB. Sebaliknya, jika tidak mengandung antigen baik A maupun B, antibodinya akan menganggap kedua antigen tersebut sebagai zat asing sehingga kedua-duanya akan digumpalkan maka golongan darahnya adalah golongan darah O. Bahan utama yang digunakan dalam melakukan identifikasi adalah berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Jika pada anti serum A terjadi penggumpalan (aglutinasi) sedangkan anti serum B tidak, maka golongan darah probandus adalah A. Bila terjadi sebaliknya, maka golongan darah probandus adalah B. Bila kedua-duanya mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah AB. Bila kedua-duanya tidak mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah O (Edward, 2010).

Fluktuasi (naik turun) frekuensi gen yang acak (random) atau disebut juga dengan genetic drift pengaruhnya dapat diabaikan pada penduduk yang besar, tetapi pada penduduk yang kecil seperti penduduk yang ada di Pulau Rupat pengaruhnya tidak dapat diabaikan, karena dengan jumlah penduduk yang sedikit maka perkawinan sekerabat dekat banyak berlangsung. Dengan perkawinan demikian yang berlangsung dari generasi ke generasi tentu saja semakin meningkatkan jumlah genotif yang homozigot dan menurunkan jumlah yang heterozigot (Darmawati, 2005).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada:

Hari/ tanggal         : Selasa, 30 November 2010

Waktu                   : pukul 16.00 s.d 17.30 WITA

Tempat                   : Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA UNM

B. Alat dan Bahan

  1. Alat yang digunakan:
    1. Blood lancet
    2. Plat tetes
    3. Bahan yang digunakan:
      1. Darah manusia (mahasiswa sebagai probandus),
      2. Kapas,
      3. Alkohol 70%,
      4. Antiserum A,
      5. Antiserum B.

C. Prosedur Kerja

  1. Mengambil darah dengan membersihkan salah satu ujung jari dengan kapas yang dibasahi alkohol 70% dan membersihkan pula blood lancet dengan alkohol. Membiarkan alkohol mengering.

2. Menusukkan blood lancet ke jari yang telah dibersihkan dengan alkohol.

3. Membuang darah pertama yang keluar dari luka.

4. Meneteskan darah kedua di atas plat tetes yang diberi tanda A dan dan tanda B, kemudian meneteskan serum anti A pada darah (tanda A), dan serum anti B pada darah (tanda B).

5. Mengaduk darah yang telah ditetesi serum anti A dan anti B, mengamati pembekuan darah.

  1. Mengamati golongan darah probandus dengan bantuan table di bawah ini
Bila diteteskan: Ada aglutinasi/ tidak Golongan darah
Serum anti-A saja Ada A
Serum anti-B saja Ada B
Serum anti-A dan serum anti-B Ada AB
Serum anti-A dan serum anti-B Tidak ada O

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No. Nama Golongan Darah
A B AB O
1 Azinal Reza Rifaad Hasani - - -
2 Selis Meriem - - -
3 Musdalipah - - -
4 Rosma Yulianti - - -
5 Yayu Hasrianti - - -
6 Isyana Sartika Sari - - -
7 Ayu Ummi Kalsum - - -
8 Nur Rahma Gani - - -
9 Kartina - - -
10 Siti Qadriyah Bachtiar - - -
11 Sufiah Muslimah - - -
12 Ahmad Dahir - - -
13 Yayu - - -
14 Sukmawati - - -
15 Agnes Imakulata - - -
16 Ishak A. Paramma - - -
17 Abdul Fatta Syam - - -
18 Sulpiani - - -
19 Fitriani - - -
20 Mubin - - -
21 Lili Suryani Embas - - -
22 Sulfiadi - - -
23 Nurlia - - - -
24 Nengsi - - -
25 Mutmainnah - - -
26 Suhartini - - -
27 Emma Raharja - - -
28 Irmayanti - - -
29 Supriadi - - -
30 Taswin - - -
No. Nama Golongan Darah
A B AB O
31 Reski Adelia - - -
32 Andi Idah Adriyanti - - -
33 Amalia Astika Sari - - -
34 Sri Wahyuni - - -
35 Suprawan - - -
36 Wahyuliasni - - -
37 Wilda - - -
38 Dian Qadariyani - - -
Total 18 6 2 12

B. Analisi Data

  1. Presentase masing-masing golongan darah:
    1. Golongan darah A  = ∑ golongan darah A x 100%

probandus= _18_ x 100%

38

= 47 %

  1. Golongan darah B   = ∑ golongan darah B x 100%

probandus

= _6_ x 100%

38

= 16 %

  1. Golongan darah AB = ∑ golongan darah AB x 100%

probandus

= _2_ x 100%

38

= 5 %

  1. Golongan darah O = ∑ golongan darah O x 100%

probandus

= _12_ x 100%

38

= 32 %

  1. Menentukan golongan darah berdasarkan hukum Hardy – Weinberg

Frekuensi alel IA = p

Frekuensi alel IB = q

Frekuensi alel Io = r

Persamaan Hukum Hardy – Weinberg adalah:

(p + q + r) = 1

(p + q + r)2 = 1

(p2 + 2pr + q2 + 2qr + 2pq + r2) = 1

(p2 IA IA + 2pr IA Io + q2 IB IB + 2qr IB Io + 2pq IA IB + r2 Io Io ) = 1

Frekuensi alel IA, IB, Io:

  1. r2 = frekuensi golongan darah O = ­__12__ = 0. 3158

∑ probandus                    38

r =

r = 0.6

  1. (p + r)2 = frekuensi golongan darah A + golongan darah 0)

∑ probandus

= ­__18 + 12__ = _30_ = 0.8

38              38

(p + r)2 =

(p + r) = 0.9

p = 0.9 – 0.6

p = 0.3

  1. (p + q + r) = 1

q  = 1 – (p + r)

q  = 1 – (0.3 + 0.6)

q  = 1 – 0.9

q  = 0.1

Golongan darah berdasarkan hukum Hardy – Weinberg:

  1. Golongan darah A

1)      p2 x ∑ probandus = (0.32) x 38

= 0.09 x 38

= 3.42

2)      2pr x ∑ probandus = (2) (0.3) (0.6) x 38

= 0.36 x 38

= 13.68

  1. Golongan darah B

1)      q2 x ∑ probandus = (0.12) x 38

= 0.01 x 38

= 0.38

2)      2qr x ∑ probandus = (2) (0.1) (0.6) x 38

= 0.12 x 38

= 4.56

  1. Golongan darah AB = 2pq x ∑ probandus

= (2) (0.3) (0.1) x 38

= 0.06 x 38

= 2.28

  1. Golongan darah O = r2 x ∑ probandus

= (0.62) x 38

= 0.36 x 38

= 13.68

Jadi, jumlah total probandus berdasarkan perhitungan hukum Hardy-Weinberg dengan melihat genotipe yaitu 3.42+13.68+0.38+4.56+2.28+13.68= 38 probandus.

C. Pembahasan

Hasil data yang kami peroleh dari kegiatan praktikum alel ganda ini yaitu presentase golongan darah A, B, AB dan O serta penentuan golongan darah berdasarkan hokum Hardy-Weinberg. Presentase golongan darah A yaitu 47% dengan jumlah 18 probandus dari 38 probandus. Presentase golongan darah B yaitu 16% dengan jumlah 16 probandus dari 38 probandus. Presentase golongan darah AB yaitu 5% dengan jumlah 2 probandus dari 38 probandus. Presentase golongan darah O yaitu 32% dengan jumlah 12 probandus dari 38 probandus. Hal ini menunjukkan presentase golongan darah A lebih banyak pada pada kelas A Pendidikan Biologi angkatan 2008 Universitas Negeri Makassar sebanyak 18 probandus dan golongan darah AB paling minim ditemukan pada kelas ini.

Hukum Hardy-Weinberg menunjukkan kita presentase golongan darah berdasarkan genotipenya. Seperti yang kita ketahui bahwa golongan darah ditentukan oleh alel ganda. Jika presentase hasil semua genotipe sebanyak jumlah probandus, maka perhitungan ini benar. Berikut penjabarannya. Jumlah golongan darah A homozigot dominan (IA IA) yaitu 3.42 dan golongan darah A heterozigot (IA I0) yaitu 13.68. Jumlah golongan darah B homozigot dominan (IB IB) yaitu 0.38 dan golongan darah B heterozigot (IB I0) yaitu 4.56. Jumlah golongan darah AB kodominan (IA IB) yaitu 2.28. Jumlah golongan darah O homozigot resesif (I0 I0) yaitu 13.68. hasil tersebut menunjukkan jumlah genotip golongan darah A, B, AB dan O yaitu 38 probandus. Hasil perhitungan di atas menunjukkan golongan darah lebih banyak memiliki genotipe golongan darah A heterozigot (IA I0). Golongan darah B lebih memiliki genotipe golongan dah B heterozigot pula (IB I0).

Golongan darah manusia ABO ditentukan oleh alel-alel i, IA dan IB. Alel i resesip terhadap IA dan IB. Alel IA dan IB bersifat kodominan, sehingga IB tidak dominan terhadap IA dan sebaliknya IA tidak dominan terhadap IB. interaksi antara alel i, IA dan IB menghasilkan 4 fenotip golongandarah, yaitu O, A, B dan AB. Gen I menghasilkan suatu molekul protein yang disebut isoaglutinin yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Orang dengan alel IA dapat membentuk aglutinogen atau antigen yang disebut antigen-A dalam eritrosit yang kemudian dapat bereaksi dengan antibodi atau agglutinin atau zat anti-B yang terdapat di dalam serum atau plasma darah (Henuhili, 2002).

Bahan utama yang digunakan dalam melakukan identifikasi adalah berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Jika pada anti serum A terjadi penggumpalan (aglutinasi) sedangkan anti serum B tidak, maka golongan darah probandus adalah A. Bila terjadi sebaliknya, maka golongan darah probandus adalah B. Bila kedua-duanya mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah AB. Bila kedua-duanya tidak mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah O (Asriani, 2010).

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data dan analisis data yang kami peroleh, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:

  1. Golongan darah manusia merupakan suatu fenotipe yang dipengaruhi oleh alel ganda.
  2. Golongan darah A bergenotipe IA IA dan IA I0, golongan darah B bergenotipe

IB IB dan IB I0, golongan darah AB bergenotipe IA IB dan golongan darah O bergenotipe I0 I0.

B. Saran

Adapun saran yang kami ajukan demi kelancaran praktikum selanjutnya, yaitu sebaiknya:

  1. Praktikan lebih menguasai konsep sebelum masuk kegiatan praktikum,
  2. Asisten tetap semangat membimbing praktikan,
  3. Laboran melengkapi sarana yang nyaman untuk kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, Lilis Asriani. 2009. Laporan Percobaan Alel Ganda. http://Lilies.blogspot.com/2009/10/laporan-percobaan-alel-ganda.html. Diakses di Makassar pada tanggal 29 November 2010.

Campbell, Neil A., J. B. Reece & L. G. Mitchell. Biologi Edisi Keloma Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Darmawati, Evi Suryawati & Edi Suhendri. 2005. Frekuensi dan Penyebaran Alel Golongan Darah A B O. Riau: Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau.

Edward, Fadli. 2010. Laporan Alel Ganda. http://bloggerfadli.blogspot.com/2010/11/laporan-alel-ganda.html. Diakses di Makassar pada tanggal 29 November 2010.

Elvita dkk. 2008. Genetika Dasar. Riau: Faculty of Medicine University of Riau.

Henuhili, Victoria dan Suratsih. 2003. Genetika. Yogyakarta: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Koesmadji, dkk. 2001. Petunjuk Praktikum. Bandung: Jurusan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Nio, Tjan Kiauw. 1990. Genetika Dasar. Bandung: FMIPA Institut Teknologi Bandung.

Petunjuk Praktikum Semester 5. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Suryo. 2000. Genetika. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Suryo. 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.